Setelah saya membaca buku tentang Pak Dahlan Iskan,
saya jadi tertarik dengan Beliau. Saya ingin membaca buku-buku lain tentang Pak
Dahlan. Hari ini saya membaca buku yang berjudul “Dahlan Juga Manusia” yang
merupakan karangan dari Ibu Siti Nasyi’ah. Saya membaca buku pada bagian Part
“Makan Bareng Juga Rapat”
Jika sudah makan bersama dengan Pak Bos, kita harus
siaga satu. Karena bisa dipastikan akan ada kejadian yang membuat kita
terbengong-bengong. Kok? Kehilangan lauk, pasti akan terjadi. Pak Bos memang
usil, masak lauk ayam ditukar dengan tahu atau daging ditukar dengan rempeyek.
Jika sudah demikian, siapa lagi yang berani menentang? Pak Bos ya tetep Pak
Bos. Ini adalah gaya kepemimpinan Pak Bos diredaksi Jawa Pos. Meski punya
jabatan paling tinggi, Pak Bos ingin memutus sekat antara atasan dan bawahan.
Bahkan dari acara makan bersama itu, Pak Bos kerap
melontarkan ide-ide baru untuk dijadikan program Jawa Pos. Satu misal pengadaan
kamera super canggih bagi fotografer. Tidak itu saja, Pak Bos juga berjanji
akan mendatangkan laptop bagi semua wartawan. Momen kebersamaan seperti itu
membawa para awak media Jawa Pos tidak lagi berjarak. Tak lagi ada lagi gap.
Semua merasakan hal yang sama. Makan bersama-sama dengan tangan. Ada
sepincuk berdua, dan tidak sedikit yang sepincuk beramai-ramai. Sebuah
kebersamaan yang sulit dilupakan. Potret indah yang sayang dibuang, Maniiisss
sekali. Kenangan yang tidak akan terulang.

