Judul
: Setelah Hujan Reda
Penulis : Boy Candra
Penerbit : Penerbit mediakita
Terbit : 8 September 2014
Setelah Hujan Reda
Hujan pernah merebut seseorang dariku
Ia merampas kebahagiaan yang tumbuh di dadaku
Ia memaksa aku menjadi sendiri
Ia juga pernah membuat janji kepadaku
Ia tak akan jatuh lagi di mataku
Namun ia berdusta, ia meninggalkan aku tanpa permisi.
Saat aku merasa hujan hanya datang untuk menyakiti, kamu hadir.
Mengajarkan aku bahwa Tuhan tidak menciptakan hujan untuk bersedih,
tetapi ia menyiapkan hujan untuk merasa kita pulih.
Aku sadar, terkadang orang yang kita cintai diciptakan Tuhan bukan
untuk dimiliki, tetapi aku ingin Tuhan menciptakanmu untuk memilikiku.
~Kadang orang yang kita cintai memang diciptakan untuk dilupakan~
Resensi :
Aku terbangun dari
tidurku, ditengah televisi yang sedang menyala tanpa penonton. Kemudian aku
menyadari aku tidak berpakaian utuh! Seketika aku menarik selimut dan duduk di
sudut pojokan kasur di kamar ini. Kamar kost-an yang aku pun tak tahu siapa
pemiliknya. Siapa yang melepas seluruh pakaianku? Mengapa aku seperti ini?
Aku teringat kejadian
semalam, terkapar di atas jalan raya yang sepi. Tanpa tenaga yang tersisa,
terdampar begitu saja. Tidak ada yang memerhatikanku yang terkulai diguyur
hujan. Pahit.
Pintu kamar ini
berbunyi. Seseorang masuk ke dalam. Ia pria dengan tinggi semampai, berkulit
putih, dan berambut ikal. Ia menatapku tanpa bicara sedikit pun. Aku ketakutan.
Terlebih ketika ia menghampiriku dengan segelas air putih hangat di tangannnya.
Aku bertanya dengan panik dan ia hanya tersenyum. Memberikan gelasnya untukku.
Aku mengambil gelas itu dengan hati-hati.
Pria itu pun duduk
menonton televisi, menciptakan keheningan antara kami berdua. Sejam lamanya
kami terdiam. Aku pun memecah keheningan dengan pertanyaan mengenai namanya. Ia
baru menjawab beberapa menit setelahnya. Percakapan itu membawaku ke sebuah
kenyataan. Semalam aku ditemukan tertidur di jalan pinggir pantai oleh pria
ini. Ia mengira, aku sudah mati, namun ternyata belum. Lalu ia membawaku ke
kamar kost-an ini. Sialnya, ia juga yang membuka pakaianku dengan alasan takut
aku mati kedinginan dengan pakaian yang basah kuyup. Alasan keduanya, ia takut
kasurnya basah karenaku. Kemudian ia meninggalkanku untuk mengambil pakaianku
yang ia cuci di laundry.
Hujan masih sangat
lebat. Ingatanku kembali pada Andika, sosok lelaki yang pernah kupercaya, yang kuharapkan,
dan yang kupikir tak akan melukaiku. Andika kupergoki tengah selingkuh dengan
wanita lain. Ia beralasan bahwa aku terlalu sibuk dengan karierku sebagai
penyiar radio. Ia ingin aku selalu ada untuknya. Sebelum Andika berselingkuh,
ia mengajakku ke sebuah hotel. Ia ingin meminta pembuktian cinta. Ia ingin
harta yang paling berharga dariku. Aku menolaknya dengan halus. Ia kesal, namun
aku berusaha menenangkannya.
Pria penghuni kamar
kost ini kembali dengan kantong plastik yang berisi pakaianku. Kemudian aku
berganti pakaian. Setelah itu, aku duduk bersamanya. Aku menanyakan mengapa ia
tidak melakukan apa pun kepadaku. Ia bingung. Aku pun menjelaskan, bahwa semua
lelaki sama, hanya menginginkan tubuh wanita. Sejurus kemudian ia tersenyum dan
mengatakan, “Tidak semua laki-laki seperti apa yang kamu pikirkan. Lelaki yang
benar-benar mencintaimu, akan memintamu secara halal. Bukan membuktikan cinta
dengan caranya sendiri.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar